Saturday, December 7, 2013

99 Lubang di film 99 Cahaya Di Langit Eropa



2 hari yang lalu, saya secara tidak sengaja membaca review dan kutipan-kutipan naskah film 99 Cahaya di Langit Eropa via Dina @duaransel, salah satu traveler favorit saya. 99 Cahaya adalah film adaptasi dari novel/memoar Hanum Rais dan Rangga Almahendra, sepasang suami-istri muslim Indonesia yang hidup di Wina, Austria selama 3 tahun. Kalimat-kalimat yang dikutip Dina @duaransel cukup membuat saya heran dan penasaran. Heran karena tidak biasanya novel atau film Islami menggunakan sudut pandang bertanya. Nol. Netral. Kebanyakan cenderung reseptif terhadap doktrin, berpihak, atau malah menghakimi. Karena itu saya penasaran lalu nonton trailernya di youtube


Trailernya cukup dramatis dan menggugah. First impression: film ini berani 'bersuara'. Membongkar sejarah penyebaran Islam di Eropa, membuka lebar dialog dan kontradiksi seputar kehidupan pemeluk agama Islam di sana, sangat membumi dan subtle karena 99 Cahaya tidak seperti film religi kebanyakan yang sibuk menjejalkan berbagai kutipan ayat dan hadist ke dalam script. I like it.

Besoknya, berangkatlah saya ke Galeria XXI untuk nonton 99 Cahaya. Untuk ukuran bioskop di Bali yang relatif cukup mahal dan berpenduduk 90% Hindu, ternyata lumayan bank juga yang nonton, meski mayoritas berkerudung.

Selesai nonton, harus saya akui kalau saya lumayan kecewa. 99 Cahaya tidak semanis dan seberani trailernya. Banyak persoalan sexy yang dilempar, tapi tidak dituntaskan. Seperti Napoleon yang (katanya) masuk Islam dan membangun Arc de Triomphe lurus menghadap Ka'bah. Kenapa dia membangun itu semua menghadap Ka'bah? 

Atau kerudung Bunda Maria yang bertuliskan lafal laailaha'ilallah di Louvre. Why? Itu karya siapa? Apa maksud si pelukis membuat karya itu? 

Atau misalnya lagi, Hanum yang digambarkan tidak berjilbab, curious tentang Islam dan selalu bertanya, tapi tidak terlihat proses 'pencarian'nya. 

Menurut saya itu persoalan-persoalan menarik yang harusnya bisa dijawab ringkas tapi tuntas. Namun 99 Cahaya menurut saya bagaikan orang mancing yang melempar banyak umpan mahal ke laut, tapi ketika ditarik, ikannya gagal nyangkut.

Selain itu, secara teknis produksi film, banyak detail kecil terabaikan sehingga mengganggu kenyamanan saya dalam menonton. Misalnya:
  1. Pada scene Asye memakaikan kerudung ke Marion, pemeran Asye diberi wig kulit kepala supaya terlihat botak. Tapi saat di close-up, di dahi Asye ada lipatan wig yang kurang rapi sehingga kelihatan sekali itu makeup.
  2. Penyebutan nama Asye, Stefan dan Marion yang berubah-ubah. Kadang Asye, kadang Asya. Kadang Marion, kadang Mariong (pronounciation Perancis). Sedangkan Stefan yang (sepertinya) orang Jerman, harusnya namanya tetap dibaca [Stefan], tapi malah dilafalkan [Stefen]. Mana yang benar?
  3. Script film 99 Cahaya secara keseluruhan yang menurut saya ditulis oleh penulis buku, bukan scriptwriter film (saya belum check siapa yang menulis). Bahasanya indah, tapi sangat kaku, tidak luwes seperti sedang baca buku. Apalagi karena banyak menggunakan Bahasa Indonesia yang memang sangat berbeda antara written dan spoken language.
  4. Pemilihan pemeran yang (ceritanya) berasal dari latar belakang kebangsaan yang berbeda-beda, tapi ngobrolnya fulllll bahasa Indonesia demi memudahkan penonton memahami dialog. (Dewi Sandra orang Perancis, Alex Abbad orang India, Fatma orang Turki, Nino Fernandez orang Austria).
  5. Scene ketika Stefan dan Khan bertengkar di perpustakaan dan semua orang tetep santai aja, tidak terganggu sama sekali. Dude, it's a friggin' library. In Europe! Mungkin karena sutradaranya orang Indonesia jadi ribut-ribut di perpustakaan dianggap biasa saja.
  6. Saya ketawa ngakak pada scene Rangga ber-adzan di Menara Eiffel. Perancis adalah negara yang menjunjung tinggi sekularitas untuk mencegah diskriminasi antar golongan. Jangankan ber-adzan, pakai kalung salib saja bisa kena tilang polisi. Ber-adzan di atas Menara Eiffel bisa dianggap perbuatan yang tidak sopan, melanggar hukum, dan meresahkan masyarakat. Kalau dalam kehidupan nyata mungkin ceritanya Rangga sudah diringkus polisi.
  7. Is there any living-straight-husband in this world that calls his wife 'say' ?
  8. Kemunculan Fatin di ending film itu sangat-sangat-sangat mengganggu dan tidak relevan sama sekali dengan cerita.
  9. Potongan-potongan adegan di dalam trailer itu ternyata tidak semuanya ada di film 99 Cahaya PART 1, karena ternyata nanti akan ada PART 2-nya dan mungkin malah PART 3. Setahu saya, apa yang ditampilkan di trailer, itulah yang seharusnya dinikmati oleh penonton film yang bersangkutan. Adegan di part berikutnya, taruh di trailer film part berikutnya juga dong.
Sebelum daftar dosa ini semakin panjang, saya ingin mengatakan bahwa sebenarnya menurut saya potensi film ini lumayan besar. Idenya bagus dan pendukungnya pun banyak, baik dari segi sponsor dan artis. Sayang sekali penggarapannya belum smooth. Gangguan pada detail-detail kecil seperti 9 poin di atas membuat lubang besar dalam penilaian saya sebagai penonton. Jika harus memberikan nilai, maka menurut saya 99 Cahaya cukup mendapat angka 5.

Semoga part 2-nya lebih baik daripada yang pertama. :)

Monday, April 15, 2013

Bali Motorcycle Diaries

Setiap hari Minggu, saya suka memberi kejutan kecil untuk diri saya sendiri: Mendatangi pantai yang belum pernah saya kunjungi. Karena kebetulan beberapa bulan ini saya tinggal di tempat yang memiliki puluhan  pantai bagus, rutinitas itu selalu terakomodir dengan baik. Lama kelamaan, kebiasaan ini agak bergeser. Saya mulai berimprovisasi. Sawah, gunung, apa saja. Kadang malah tempat yang saya kunjungi sama sekali bukan obyek wisata, namun punya nilai rekreasi bagi saya. 

Minggu lalu, saya dan seorang teman membuat rencana jalan-jalan low budget yang sederhana. Tentu saja naik motor seperti biasa. Rencananya adalah, berangkat pagi ke Bedugul, kemudian lanjut sebentar ke air terjun di Munduk. Rencana itu kami buat hanya berdasarkan 'denger-denger' bahwa 'katanya' letak Munduk tidak jauh dari Bedugul. Tak lebih dari survey ringan di tripadvisor. Kami berencana berangkat jam 8 pagi, sampai Denpasar lagi jam 4 sore. Ternyata itinerary-nya meleset jauh!

Jagoan saya di tikungan Strawberry Hills, Bedugul.
Photo by: Gigih RC

Kami berangkat jam 8.30 pagi. 30 menit terlambat karena saya bangun kesiangan. Mengambil rute biasa lewat Ubung - Sempidi - Mengwi, kami menuju Bedugul. Kami sampai di Bedugul 1,5 jam setelahnya dengan perut meraung-raung minta makan. Bodohnya, waktu berangkat tadi kami lupa belum ambil cash di ATM. Dan di Bedugul tidak ada ATM BCA. Great. Untungnya masih ada ATM Mandiri, BNI dan BRI. Dengan bersungut-sungut kami merelakan lima ribu rupiah ekstra untuk biaya penarikan beda bank, kemudian cari warung. Ada satu warteg Ponorogo nan imut di arah ke Bedugul Botanic Garden yang ternyata harganya agak di atas level warteg tapi enak dan porsinya banyak. Selesai makan, kami ke Pura Ulun Danu Beratan.

Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul
Photo by : Gigih RC

Kami membayar tiket masuk 10.000 rupiah per orang (domestik - dewasa). Tak banyak yang berubah dari Ulun Danu Beratan sejak terakhir kali saya kesini waktu study tour SMP. Paling-paling taman depannya yang makin rapi, dihapuskannya syarat memakai sarung / kamen, dan sudah tidak ada lagi parasailing di danau. Saya ingat betul untuk yang terakhir itu. Karena waktu SMP dulu saya pernah parasailing di sini dan nggak bisa turun sampai harus nambah dua putaran hingga akhirnya bisa turun.

Danau Beratan
Photo by : Gigih RC
Menurut saya, tidak perlu terlalu lama mengunjungi situs ini. 1 jam maksimal. Kecuali anda berminat  mengeksplor danau naik perahu jukung (Rp.60.000/jam), main sepeda air berbentuk bebek dengan pacar anda (Rp.35.000/jam), atau mungkin ngebut naik speedboat (Rp.125.000/jam). Jangan salah. Saya suka tempat ini. Memandangi garis-garis yang meliuk di gunung yang hijau dengan alas hamparan danau Beratan diselingi kabut tipis, menurut saya pemandangan itu magis dan peaceful. Di tepian itu semua, berdiri dengan tenangnya Pura Ulun Danu Beratan yang cantik dan bernilai historis tinggi. Mungkin lebih maksimal lagi kalau tidak ada puluhan turis lain dan belasan tukang foto langsung jadi yang berisik menawarkan dagangannya. By the way, turis lokal di sini mayoritas masih tipe-tipe "Hi-mister-you-are-a-bule-so-can-I-take-a-picture-with-you-now-?"

Ladang Strawberry, Bedugul.
Photo by : Gigih RC
Sebelum kami melanjutkan ke Munduk, kami membeli dua pack strawberry. 20% karena memang pengen, 80% laper mata karena sepanjang jalan banyak ladang dan pedagang strawberry. Manis dan murah, 5.000 rupiah per pack dengan isi sekitar 20-25 buah. Setelah itu kami mengambil rute Bedugul-Singaraja menuju Munduk. Kami melewati Danau Bayan yang menjadi sangat cantik karena view-nya bisa dinikmati secara diagonal (yes. Diagonal) dari jalan raya yang menanjak curam. Saya sempat bingung membagi perhatian antara nyetir, melihat ke bawah (ke danau), dan menghindari monyet-monyet yang berkeliaran di sepanjang jalan di atas danau Bayan.

Rute setelah Danau Bayan berliku-liku curam dan tajam ke atas selama 30 menit, setelah itu menurun. Namun sepanjang jalan kami tidak melihat street sign yang menunjuk ke Munduk. Yang kami lihat cuma arah ke Gitgit. Tak seberapa jauh kemudian ada plang bertuliskan Gitgit Twin Waterfall dan saya langsung minggir. Teman saya bingung. Katanya ke Munduk kok berhentinya di Gitgit? Hmmm...yaaa...Gitgit lebih terkenal, jadi harusnya lebih bagus. Dan lagi lumayan jauh dari Denpasar. Jadi mumpung lewat, kenapa nggak sekalian mampir? (jawaban yang sangat nggak konsisten. Saya tahu). Jadilah kami turun berjalan kaki menuju Gitgit. Yay!

Gitgit Waterfall, Singaraja.

Turquoise water, Gitgit Waterfall, Singaraja.

Untuk mencapai Gitgit, dibutuhkan jalan kaki selama kira-kira 20 menit. Akses menuju air terjun relatif mudah dan terpelihara dengan sangat baik. Harga tiket masuk 5.000 rupiah per orang. Sangat murah. Di sepanjang rute akan banyak anak kecil menjajakan souvenir dan juga beberapa 'pit stop' kalau-kalau capek berjalan. Uniknya, 'pit stop' ini juga menjual beraneka rempah-rempah seperti lada, ketumbar, cinnamon, dll yang dikemas rapi dalam plastik transparan. Di akhir rute, Anda akan bertemu persimpangan. Ke kiri, dua air terjun setinggi kira-kira 20 meter namun tidak terlalu lebar. Turun ke bawah, ada air terjun yang lebih lebar dan arusnya lebih besar. Air terjun Gitgit berwarna turquoise jernih, dikelilingi tebing batu bertekstur unik yang tidak dapat tercapture sempurna dengan media apapun kecuali mata telanjang. Setelah beberapa lama main air, kami melanjutkan perjalanan. Tadinya kami sudah akan pulang. Namun saya mengurungkan niat. Tanggung rasanya, sudah masuk Singaraja kok nggak ke Lovina? Jadi dari Gitgit kami lanjut deh ke Lovina. Sudah lupa sama Munduk. :p

Selepas Gitgit, kami melewati 2 atau 3 papan nama yang juga bertuliskan Gitgit Waterfall. Tidak perlu khawatir karena semua itu bersumber dari satu mata air, yang membedakan hanya view dan letak ketinggiannya. Yang Anda temui pertama dari arah Bedugul adalah yang tertinggi. Disambut hujan angin dan kabut, jas hujan kami tidak terlalu berfungsi. Namun betapa sayangnya kalau harus putar balik hanya karena hujan. Jalan teruuus!

Kami sampai di pantai Lovina jam setengah 3 sore. Hujan sudah berhenti. Sungguh kami kecewa karena ternyata Lovina hanyalah pantai sepi yang super kotor. Beberapa orang menawarkan wisata lumba-lumba di tengah laut seharga 60.000 rupiah per orang, tapi saya ragu karena setahu saya waktu yang tepat untuk dolphin tour adalah subuh-subuh, jelas bukan ashar-ashar. Setelah 20 menit meregangkan tulang punggung yang pegal di dermaga Lovina, kami memutuskan untuk pulang. Lewat mana?

Tulamben.

Iya, itu berarti kami mengambil rute memutar yang sama dengan 2 kali jarak rute pulang lewat Bedugul. Tapi namanya juga road trip. Nggak seru kan kalau rute pulang sama dengan rute berangkat. :D

Ketika melewati pusat kota Singaraja, saya cukup amazed karena ternyata kota ini tidak jauh berbeda dengan Mojokerto atau Solo. Cukup modern (ada Singaraja plaza, ada Carrefour), tertata rapi, dan gaya arsitekturnya lebih 'njawani', tidak banyak yang bergaya Bali. Setidaknya itulah kesan kami ketika melintasi downtown Singaraja.

Kami ngebut ke arah Amlapura karena kejar-kejaran dengan awan hitam yang gede banget.  Setelah beberapa lama melaju, ternyata ada sign Kintamani belok kanan. Pertama, saya belum pernah ke Singaraja sebelumnya, jadi masih buta jalan. Kedua, kami tidak membawa peta dan males buka GPS. Ketiga, berhubung teman saya sudah lama nggak keturutan ke Kintamani, akhirnya kami mengikuti sign itu. Batal pulang lewat Tulamben, belok kanan ke Kintamani!

yang baca posting ini pasti bete karena dari tadi itinerary-nya meleset semua dari rencana. :))

Singkat cerita, kami kalah kejar-kejaran dengan mendung, dan akhirnya kehujanan lagi. Jas hujan kembali tidak menjalankan fungsi yang semestinya. Tulang ekor mulai pegal, kami pun mulai bosan. Rute ini cenderung lurus dan menanjak. Tidak banyak yang bisa dilihat. Namun semakin tinggi, mata kembali segar karena memasuki hutan panjang yang menyerupai terowongan setengah terbuka. Hijau di mana-mana. Jurang juga di mana-mana sih. Tapi tidak securam rute Bedugul-Gitgit. Tak lama kemudian kami melihat kabut. Makin lama makin tebal. Entah kabutnya yang makin turun atau posisi kami yang semakin tinggi. Jarak pandang kami sempat cuma sekitar 3 meter. Lebih jauh dari itu tidak terlihat sama sekali, tertutup kabut tebal. Seperti anak kecil yang melihat salju untuk kali pertama (cuman ungkapan, padahal sampe umur segini juga belum pernah lihat salju), kami tak henti-hentinya berseru "wooooow" atau "wiiiiihhhhh" saking takjubnya.

Gunung Batur, Kintamani.
Photo by: Gigih RC

View Danau Batur dari Kebun Orang.
Photo by: Gigih RC

jam setengah 4 sore. Kami melipat jas hujan di Kintamani. Alarm jam makan otomatis (baca:perut) sudah kembali berbunyi. Setelah mengagumi pemandangan Gunung Batur dari pinggir jalan serta menghirup dalam-dalam udara segar, kami makan sebentar. Kemudian kembali berkelok-kelok turun ke Danau Batur. Biasanya, saya menikmati view danau dari lapangan parkir. Namun karena beberapa kali harus berurusan dengan ibu-ibu super agresif pedagang suvenir, kali ini saya memilih untuk memarkir motor di jalan kemudian masuk ke tepi danau melalui kebun orang. Eits, jangan buru-buru menyalahkan saya yang masuk ke kebun orang tanpa izin. Sebelum kami sampai situ, sudah ada dua mas-mas lain yang sedang asyik memancing di situ. Jadi kami nggak salah-salah amat, kan? :p

Awan hitam kembali mengancam. Kami bergegas karena malas pakai jas hujan lagi. Tapi apa daya. Belum juga sampai di Tegalalang, hujan sudah turun dengan derasnya. Kami cepat-cepat mengenakan jas hujan untuk ketiga kalinya. Baru 10 menit, hujan berhenti, jalanan kering. Bete, kami masukkan lagi jas hujan ke bagasi.
Pengrajin Dream Catcher, Tegalalang.
Photo by: Gigih RC

Terasiring di Tegalalang, Ubud.
Photo by : Gigih RC
Tegalalang selalu menjadi rute yang menyenangkan karena banyak pengrajin yang memajang berbagai macam barang dagangan mulai mebel, ukiran kayu, cermin, kerajinan bulu, dan berbagai handicraft lainnya. Kami juga menyempatkan berhenti sebentar di terasiring Tegalalang yang cantik untuk berfoto. Kebetulan saat itu padi yang ditanam sudah tumbuh lebat, rapi seperti karpet hijau.

Rute Perjalanan di atas Tissue
Photo by: Gigih RC
Setelah perjalanan yang panjang, kami melepas lelah dengan menghirup kopi di Ubud, tepatnya di beranda toko selai langganan, Confiture Michele, sambil mengobrol dengan Mbok Wayan, pengelola toko yang sangat ramah. Di sana, kami menertawakan road trip yang sama sekali tidak terencana ini. Ternyata membelah Bali bisa dilakukan tanpa harus menginap. Saya mengambil selembar tissue dan mencoba menggambar ulang rute yang kami lalui. Jauh juga ya ternyata, pikir kami.

Jam tangan menunjukkan pukul 8 malam sewaktu saya tiba di rumah. Setengah hari yang cukup melelahkan, tapi sangat menyenangkan! Kapan-kapan saya pengen road trip lagi ah. Hehehe.

Saturday, January 5, 2013

Terima Raport

Bagi saya, tahun 2012 adalah sebatang cokelat.

Bittersweet. 

Separuh tahun pertama, harus diakui, cukup rough buat saya. Tuhan memilihkan pelajaran yang tidak biasa kali itu. Butuh waktu bagi saya untuk bisa mencerna dan memahami apa yang hendak diajarkannya. 
Sekali lagi saya belajar bahwa manusia tidak pernah ada yang hitam dan putih. Manusia adalah abu-abu yang sempurna lebur jadi satu dari ribuan elemen warna yang menjadikan dirinya dia. Bahwa tak sedikitpun saya punya kuasa untuk menjadikan orang lain itu berlaku sesuai kehendak saya, dan tak seorangpun di semesta selain Tuhan punya wewenang absolut untuk menjudge orang lain tentang benar dan salah. Dulu sekali, seorang teman baik pernah mengajarkan bab abu-abu ini pada saya. Ternyata waktu itu saya masih terlalu hijau untuk memahami maksudnya. Ibarat bawang, yang waktu itu saya kupas ternyata barulah kulitnya.
Lalu apakah di tahun 2012 kemarin saya sudah mengupas bab ini hingga bagian intinya? Belum tentu. Dosen saya pernah mengajarkan, Communication is an ongoing process of learning and understanding. Proses pemaknaan terjadi terus menerus, sehingga apa yang kita pahami di hari ini tidak akan berhenti sampai di sini saja. Terus, sampai mati. Semoga.

Di tahun 2012 saya juga belajar untuk menaklukkan musuh terbesar manusia di bumi: diri mereka sendiri. Saya termasuk orang yang percaya bahwa di dalam diri setiap manusia ada seorang teman tanpa wujud yang sejati. Barangkali itu yang sering disebut hati nurani. Saya mengandaikan diskusi-diskusi dalam diri ini seperti percakapan antara Gollum dan Smeagol dalam film Lord of The Rings. Bukan pekerjaan mudah bagi seseorang untuk bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Jangankan untuk orang lain, menjinakkan ego untuk kebaikan dirinya sendiri terkadang manusia tak mau. Seringkali, saya mengajak diri saya sendiri untuk berdiskusi tentang keputusan-keputusan besar yang mendesak, tentang mimpi-mimpi yang jauh, tentang pencapaian yang sudah kami menangkan, bertarung dengan dendam yang tak mau pergi, dan masih banyak lagi. Apakah hanya saya yang mengalami hal ini?

Separuh tahun terakhir, perlahan saya menemukan kembali nyali untuk berdiri. Saya temukan lagi passion yang sudah lama terkubur entah kemana: Berdagang dan Bahasa. 
Berdagang mengajarkan diri saya bahwa parameter kesuksesan tidak hanya melulu dari gaji dan jabatan. Bahwa kesuksesan tidak sama dengan kekayaan. Dulu, bekerja ibarat candu bagi saya. Lupa mandi. Lupa makan. Lupa tidur. Lupa kalau saya juga punya keluarga. Setelah berdagang, saya belajar bahwa sukses itu harus. Hidup cukup itu harus diusahakan. Namun happiness harus diletakkan di atas semua itu. Jangan pernah dinomorduakan. 
Saya selalu punya minat tinggi dalam belajar bahasa. Baik bahasa asing maupun bahasa lokal. Menurut saya, bahasa adalah penemuan manusia yang paling jenius. Bahasa membuktikan bahwa manusia tidak sanggup hidup sendirian. Manusia butuh berkomunikasi dengan yang lain. Bahasa juga memungkinkan manusia mengeksplor lebih dalam suatu kultur di belahan bumi yang lain. Semakin banyak bahasa yang saya pelajari, semakin saya merasa kecil, dan semakin saya merasa Tuhan itu kaya.
Enam bulan terakhir, saya memutuskan menggunakan hasil berdagang saya untuk serius mempelajari Bahasa Perancis, salah satu bahasa yang (katanya) paling sulit di dunia. Waktu itu motivasi saya hanya satu: sejak duduk di bangku SMP saya ingin bisa berbicara Bahasa Perancis karena (katanya) orang Perancis tidak mau berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Besok-besok kalau ke Perancis biar bisa ngomong sama orang Perancisnya, begitu pikir saya. Di luar dugaan, yang saya dapat bukan hanya kemampuan berbahasa, namun saya belajar untuk kembali berani bermimpi, dan kembali berani untuk konsekuen mewujudkan semua mimpi saya. Belajar bahasa Perancis, menurut saya, adalah pencapaian tertinggi saya di tahun 2012. 

Saya menutup 2012 dengan sebuah keputusan besar: Kembali ke Bali.
Mengapa Bali lagi? tanya seorang teman. 

Seperti yang mungkin sudah anda baca di beberapa posting sebelum ini, Bali adalah melting pot, tempat puluhan kultur menyublim jadi satu dalam heterogenitas yang toleran dan guyub. Setelah semua yang saya alami di 2012, saya rasa Bali adalah landasan pacu yang ideal untuk startover dan mewujudkan kembali semua mimpi saya. Tidak ada excuse untuk menyerah kali ini. Apapun itu.

Mungkin apa yang dikatakan orang itu ada benarnya. Sekali seseorang memutuskan untuk hidup di Bali, suatu saat pasti akan kembali lagi ke Bali. Whatever it is, I simply fell in love with this island, maybe that's why.

Kemudian datanglah tahun 2013. Ternyata saya lolos dari ramalan suku Maya. Hahaha.
Selamat tahun baru, teman-teman. Semoga raport kita tahun ini lebih baik daripada tahun 2012 supaya bisa naik kelas. :)

Cafe Havana, Ubud, 05 Januari 2013.
--Gigih.