Showing posts with label Bali. Show all posts
Showing posts with label Bali. Show all posts

Monday, April 15, 2013

Bali Motorcycle Diaries

Setiap hari Minggu, saya suka memberi kejutan kecil untuk diri saya sendiri: Mendatangi pantai yang belum pernah saya kunjungi. Karena kebetulan beberapa bulan ini saya tinggal di tempat yang memiliki puluhan  pantai bagus, rutinitas itu selalu terakomodir dengan baik. Lama kelamaan, kebiasaan ini agak bergeser. Saya mulai berimprovisasi. Sawah, gunung, apa saja. Kadang malah tempat yang saya kunjungi sama sekali bukan obyek wisata, namun punya nilai rekreasi bagi saya. 

Minggu lalu, saya dan seorang teman membuat rencana jalan-jalan low budget yang sederhana. Tentu saja naik motor seperti biasa. Rencananya adalah, berangkat pagi ke Bedugul, kemudian lanjut sebentar ke air terjun di Munduk. Rencana itu kami buat hanya berdasarkan 'denger-denger' bahwa 'katanya' letak Munduk tidak jauh dari Bedugul. Tak lebih dari survey ringan di tripadvisor. Kami berencana berangkat jam 8 pagi, sampai Denpasar lagi jam 4 sore. Ternyata itinerary-nya meleset jauh!

Jagoan saya di tikungan Strawberry Hills, Bedugul.
Photo by: Gigih RC

Kami berangkat jam 8.30 pagi. 30 menit terlambat karena saya bangun kesiangan. Mengambil rute biasa lewat Ubung - Sempidi - Mengwi, kami menuju Bedugul. Kami sampai di Bedugul 1,5 jam setelahnya dengan perut meraung-raung minta makan. Bodohnya, waktu berangkat tadi kami lupa belum ambil cash di ATM. Dan di Bedugul tidak ada ATM BCA. Great. Untungnya masih ada ATM Mandiri, BNI dan BRI. Dengan bersungut-sungut kami merelakan lima ribu rupiah ekstra untuk biaya penarikan beda bank, kemudian cari warung. Ada satu warteg Ponorogo nan imut di arah ke Bedugul Botanic Garden yang ternyata harganya agak di atas level warteg tapi enak dan porsinya banyak. Selesai makan, kami ke Pura Ulun Danu Beratan.

Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul
Photo by : Gigih RC

Kami membayar tiket masuk 10.000 rupiah per orang (domestik - dewasa). Tak banyak yang berubah dari Ulun Danu Beratan sejak terakhir kali saya kesini waktu study tour SMP. Paling-paling taman depannya yang makin rapi, dihapuskannya syarat memakai sarung / kamen, dan sudah tidak ada lagi parasailing di danau. Saya ingat betul untuk yang terakhir itu. Karena waktu SMP dulu saya pernah parasailing di sini dan nggak bisa turun sampai harus nambah dua putaran hingga akhirnya bisa turun.

Danau Beratan
Photo by : Gigih RC
Menurut saya, tidak perlu terlalu lama mengunjungi situs ini. 1 jam maksimal. Kecuali anda berminat  mengeksplor danau naik perahu jukung (Rp.60.000/jam), main sepeda air berbentuk bebek dengan pacar anda (Rp.35.000/jam), atau mungkin ngebut naik speedboat (Rp.125.000/jam). Jangan salah. Saya suka tempat ini. Memandangi garis-garis yang meliuk di gunung yang hijau dengan alas hamparan danau Beratan diselingi kabut tipis, menurut saya pemandangan itu magis dan peaceful. Di tepian itu semua, berdiri dengan tenangnya Pura Ulun Danu Beratan yang cantik dan bernilai historis tinggi. Mungkin lebih maksimal lagi kalau tidak ada puluhan turis lain dan belasan tukang foto langsung jadi yang berisik menawarkan dagangannya. By the way, turis lokal di sini mayoritas masih tipe-tipe "Hi-mister-you-are-a-bule-so-can-I-take-a-picture-with-you-now-?"

Ladang Strawberry, Bedugul.
Photo by : Gigih RC
Sebelum kami melanjutkan ke Munduk, kami membeli dua pack strawberry. 20% karena memang pengen, 80% laper mata karena sepanjang jalan banyak ladang dan pedagang strawberry. Manis dan murah, 5.000 rupiah per pack dengan isi sekitar 20-25 buah. Setelah itu kami mengambil rute Bedugul-Singaraja menuju Munduk. Kami melewati Danau Bayan yang menjadi sangat cantik karena view-nya bisa dinikmati secara diagonal (yes. Diagonal) dari jalan raya yang menanjak curam. Saya sempat bingung membagi perhatian antara nyetir, melihat ke bawah (ke danau), dan menghindari monyet-monyet yang berkeliaran di sepanjang jalan di atas danau Bayan.

Rute setelah Danau Bayan berliku-liku curam dan tajam ke atas selama 30 menit, setelah itu menurun. Namun sepanjang jalan kami tidak melihat street sign yang menunjuk ke Munduk. Yang kami lihat cuma arah ke Gitgit. Tak seberapa jauh kemudian ada plang bertuliskan Gitgit Twin Waterfall dan saya langsung minggir. Teman saya bingung. Katanya ke Munduk kok berhentinya di Gitgit? Hmmm...yaaa...Gitgit lebih terkenal, jadi harusnya lebih bagus. Dan lagi lumayan jauh dari Denpasar. Jadi mumpung lewat, kenapa nggak sekalian mampir? (jawaban yang sangat nggak konsisten. Saya tahu). Jadilah kami turun berjalan kaki menuju Gitgit. Yay!

Gitgit Waterfall, Singaraja.

Turquoise water, Gitgit Waterfall, Singaraja.

Untuk mencapai Gitgit, dibutuhkan jalan kaki selama kira-kira 20 menit. Akses menuju air terjun relatif mudah dan terpelihara dengan sangat baik. Harga tiket masuk 5.000 rupiah per orang. Sangat murah. Di sepanjang rute akan banyak anak kecil menjajakan souvenir dan juga beberapa 'pit stop' kalau-kalau capek berjalan. Uniknya, 'pit stop' ini juga menjual beraneka rempah-rempah seperti lada, ketumbar, cinnamon, dll yang dikemas rapi dalam plastik transparan. Di akhir rute, Anda akan bertemu persimpangan. Ke kiri, dua air terjun setinggi kira-kira 20 meter namun tidak terlalu lebar. Turun ke bawah, ada air terjun yang lebih lebar dan arusnya lebih besar. Air terjun Gitgit berwarna turquoise jernih, dikelilingi tebing batu bertekstur unik yang tidak dapat tercapture sempurna dengan media apapun kecuali mata telanjang. Setelah beberapa lama main air, kami melanjutkan perjalanan. Tadinya kami sudah akan pulang. Namun saya mengurungkan niat. Tanggung rasanya, sudah masuk Singaraja kok nggak ke Lovina? Jadi dari Gitgit kami lanjut deh ke Lovina. Sudah lupa sama Munduk. :p

Selepas Gitgit, kami melewati 2 atau 3 papan nama yang juga bertuliskan Gitgit Waterfall. Tidak perlu khawatir karena semua itu bersumber dari satu mata air, yang membedakan hanya view dan letak ketinggiannya. Yang Anda temui pertama dari arah Bedugul adalah yang tertinggi. Disambut hujan angin dan kabut, jas hujan kami tidak terlalu berfungsi. Namun betapa sayangnya kalau harus putar balik hanya karena hujan. Jalan teruuus!

Kami sampai di pantai Lovina jam setengah 3 sore. Hujan sudah berhenti. Sungguh kami kecewa karena ternyata Lovina hanyalah pantai sepi yang super kotor. Beberapa orang menawarkan wisata lumba-lumba di tengah laut seharga 60.000 rupiah per orang, tapi saya ragu karena setahu saya waktu yang tepat untuk dolphin tour adalah subuh-subuh, jelas bukan ashar-ashar. Setelah 20 menit meregangkan tulang punggung yang pegal di dermaga Lovina, kami memutuskan untuk pulang. Lewat mana?

Tulamben.

Iya, itu berarti kami mengambil rute memutar yang sama dengan 2 kali jarak rute pulang lewat Bedugul. Tapi namanya juga road trip. Nggak seru kan kalau rute pulang sama dengan rute berangkat. :D

Ketika melewati pusat kota Singaraja, saya cukup amazed karena ternyata kota ini tidak jauh berbeda dengan Mojokerto atau Solo. Cukup modern (ada Singaraja plaza, ada Carrefour), tertata rapi, dan gaya arsitekturnya lebih 'njawani', tidak banyak yang bergaya Bali. Setidaknya itulah kesan kami ketika melintasi downtown Singaraja.

Kami ngebut ke arah Amlapura karena kejar-kejaran dengan awan hitam yang gede banget.  Setelah beberapa lama melaju, ternyata ada sign Kintamani belok kanan. Pertama, saya belum pernah ke Singaraja sebelumnya, jadi masih buta jalan. Kedua, kami tidak membawa peta dan males buka GPS. Ketiga, berhubung teman saya sudah lama nggak keturutan ke Kintamani, akhirnya kami mengikuti sign itu. Batal pulang lewat Tulamben, belok kanan ke Kintamani!

yang baca posting ini pasti bete karena dari tadi itinerary-nya meleset semua dari rencana. :))

Singkat cerita, kami kalah kejar-kejaran dengan mendung, dan akhirnya kehujanan lagi. Jas hujan kembali tidak menjalankan fungsi yang semestinya. Tulang ekor mulai pegal, kami pun mulai bosan. Rute ini cenderung lurus dan menanjak. Tidak banyak yang bisa dilihat. Namun semakin tinggi, mata kembali segar karena memasuki hutan panjang yang menyerupai terowongan setengah terbuka. Hijau di mana-mana. Jurang juga di mana-mana sih. Tapi tidak securam rute Bedugul-Gitgit. Tak lama kemudian kami melihat kabut. Makin lama makin tebal. Entah kabutnya yang makin turun atau posisi kami yang semakin tinggi. Jarak pandang kami sempat cuma sekitar 3 meter. Lebih jauh dari itu tidak terlihat sama sekali, tertutup kabut tebal. Seperti anak kecil yang melihat salju untuk kali pertama (cuman ungkapan, padahal sampe umur segini juga belum pernah lihat salju), kami tak henti-hentinya berseru "wooooow" atau "wiiiiihhhhh" saking takjubnya.

Gunung Batur, Kintamani.
Photo by: Gigih RC

View Danau Batur dari Kebun Orang.
Photo by: Gigih RC

jam setengah 4 sore. Kami melipat jas hujan di Kintamani. Alarm jam makan otomatis (baca:perut) sudah kembali berbunyi. Setelah mengagumi pemandangan Gunung Batur dari pinggir jalan serta menghirup dalam-dalam udara segar, kami makan sebentar. Kemudian kembali berkelok-kelok turun ke Danau Batur. Biasanya, saya menikmati view danau dari lapangan parkir. Namun karena beberapa kali harus berurusan dengan ibu-ibu super agresif pedagang suvenir, kali ini saya memilih untuk memarkir motor di jalan kemudian masuk ke tepi danau melalui kebun orang. Eits, jangan buru-buru menyalahkan saya yang masuk ke kebun orang tanpa izin. Sebelum kami sampai situ, sudah ada dua mas-mas lain yang sedang asyik memancing di situ. Jadi kami nggak salah-salah amat, kan? :p

Awan hitam kembali mengancam. Kami bergegas karena malas pakai jas hujan lagi. Tapi apa daya. Belum juga sampai di Tegalalang, hujan sudah turun dengan derasnya. Kami cepat-cepat mengenakan jas hujan untuk ketiga kalinya. Baru 10 menit, hujan berhenti, jalanan kering. Bete, kami masukkan lagi jas hujan ke bagasi.
Pengrajin Dream Catcher, Tegalalang.
Photo by: Gigih RC

Terasiring di Tegalalang, Ubud.
Photo by : Gigih RC
Tegalalang selalu menjadi rute yang menyenangkan karena banyak pengrajin yang memajang berbagai macam barang dagangan mulai mebel, ukiran kayu, cermin, kerajinan bulu, dan berbagai handicraft lainnya. Kami juga menyempatkan berhenti sebentar di terasiring Tegalalang yang cantik untuk berfoto. Kebetulan saat itu padi yang ditanam sudah tumbuh lebat, rapi seperti karpet hijau.

Rute Perjalanan di atas Tissue
Photo by: Gigih RC
Setelah perjalanan yang panjang, kami melepas lelah dengan menghirup kopi di Ubud, tepatnya di beranda toko selai langganan, Confiture Michele, sambil mengobrol dengan Mbok Wayan, pengelola toko yang sangat ramah. Di sana, kami menertawakan road trip yang sama sekali tidak terencana ini. Ternyata membelah Bali bisa dilakukan tanpa harus menginap. Saya mengambil selembar tissue dan mencoba menggambar ulang rute yang kami lalui. Jauh juga ya ternyata, pikir kami.

Jam tangan menunjukkan pukul 8 malam sewaktu saya tiba di rumah. Setengah hari yang cukup melelahkan, tapi sangat menyenangkan! Kapan-kapan saya pengen road trip lagi ah. Hehehe.

Tuesday, July 12, 2011

Bendan Mulih? *)

Danau Batur, Bali

25 November 2010

Saya tidak pernah menyangka. Pesawat Mandala Airlines yang terbang dari Surabaya menuju Bali pada 11:35 WIB itu akan membawa saya ke sebuah perjalanan tujuh bulan yang tak ternilai harganya.

Hari itu, belum genap seminggu saya diwisuda. Saya datang setelah packing asal-asalan. Meninggalkan rumah demi memenuhi panggilan interview di salah satu taman hiburan di wilayah timur Bali untuk posisi yang, menurut semua orang, "bukan saya banget" di divisi pengadaan. Jauh dari orangtua, teman-teman, dan segala hingar bingar Surabaya. Saya sudah punya back-up plan. Kalau tidak diterima, saya akan menumpang di kost teman di Kuta untuk cari kerja. Apa saja. Asal tidak nganggur.

++

Saya diterima! Mulai saat itu saya tinggal di mess, di dalam lokasi konservasi satwa (tepatnya di belakang kandang buaya dan babirusa) di pinggir kota Gianyar. Ya, Ubud yang terkenal karena film Eat Pray Love itu memang masih di kota Gianyar. Ya, desa pengrajin perak Sukawati juga masih termasuk wilayah Gianyar. Tapi jangan bayangkan saya berada dalam zona-zona turis yang itu. Saya tinggal di bagian Bali yang didominasi oleh hutan dan sawah. Sangat kontras dengan Surabaya.

jalan dari mess menuju kantor

Dari mess, perlu waktu 15 menit naik motor untuk belanja ke Indomart.

satu kilometer untuk ke warung makan terdekat.
satu jam untuk ke Mall terdekat.

satu jam untuk ke Kuta.

Mau kemana-mana jauh!


++

Hari-hari awal di kantor, saya bingung. Di lingkungan baru, saya bukan tipe orang yang gampang memulai pembicaraan. Butuh waktu lama untuk bisa tune in. Saya lebih memilih diam dan menyimak. Jika ada yang bertanya, baru saya bisa 'bunyi'. Saya banyak menghabiskan malam-malam awal dengan menemui beberapa teman lama yang sedang berlibur ke Bali. Saya sempat khawatir tidak bakalan bisa kerasan hidup di sana.
Betapa kelirunya saya.

++

Januari 2011
Tak pernah saya merasa begitu nyaman di tempat lain melebihi rumah saya sendiri. Bali, bagi saya, bukan destinasi wisata eksotis dengan berbagai sarana hedonisme serba-lengkap dimana semua orang berlomba memoles diri supaya terlihat lebih 'mahal' dibanding yang lain.


Hanya perlu waktu 5 menit untuk bisa makan plecing kangkung, sate lilit dan bakso ikan di warteg murah beralas pasir yang menghadap ke pantai. Melihat nelayan berangkat melaut. Di hari tertentu saya bisa makan sambil nonton orang main taruhan dadu.

Plecing kangkung, bakso ikan, sate lilit

Seminggu sekali saya pergi
hunting keliling Denpasar. Itu istilah kantor untuk memperhalus kata 'belanja'. Saya sangat senang jika diajak hunting bersama bli Lolak dan ajik Sumar, karena: 1. Jalan jalan ke kota. (Hore!) 2. Sepanjang perjalanan saya belajar beberapa kosakata dasar bahasa Bali. Mulai yang normal sampai yang jorok. Dalam beberapa bulan, saya sudah bisa bicara bahasa Bali (versi terbata-bata).

Hunting ke Makro

Di hari libur, saya bisa menghabiskan berjam-jam di sepetak secondhand bookshop milik bli Zainal di Poppies untuk baca buku bekas dari berbagai negara. Kadang beli, kadang cuma main. Kadang sambil mengobrol dengan sang pemilik yang sering mengeluh betapa dia ingin bisa merekomendasikan buku yang tepat bagi pembelinya. Namun bli Zainal tak bisa baca buku Bahasa Inggris. Hanya sekedar 'bahasa tawar-menawar', kalau mengutip istilahnya.

Toko buku bli Zainal

Ikut arak-arakan Ogoh-Ogoh di malam Nyepi sambil membawa obor di desa Temesi. Harus menyumpal telinga dengan kapas karena penduduk bersahutan meledakkan meriam bambu mereka sebagai perayaan menyambut hari suci. Diakhiri dengan makan nasi sela jukut jepang dan tum sambil jongkok di dapur rumah teman saya.

Arak-arakan Ogoh-Ogoh malam Nyepi di Temesi

Atau menyusuri Pecatu naik motor, menyerap keindahan padang rumput, tebing serta pantainya sebisa mungkin dengan semua panca indera. Camping dengan teman-teman di pantai Pondok Pemuda, tak ada orang lain selain kami. Tidur beralas matras di dermaga terlantar ditemani debur ombak. Bangun tidur melihat cakrawala tanpa batas, lalu kehujanan sepanjang perjalanan pulang tanpa jas hujan.

Memang tidak mewah. Tapi Ini rumah saya.

++

Pondok Pemuda

27 Mei 2011
Saya mengajukan surat pengunduran diri. Kenapa? karena saya ingin melompat lebih tinggi lagi. Saya harus melompat lebih tinggi. Dengan melompat lebih tinggi, lebih banyak yang bisa saya lihat. Apakah saya siap untuk mengundurkan diri? Ya, dari kantor saya. tapi tidak, sama sekali tidak siap, untuk meninggalkan Bali.

Bali adalah rumah. Yang memeluk dengan pepohonan raksasanya di sela-sela day off saya. Yang menghibur dengan desir ombaknya ketika saya sedang sedih karena jauh dari keluarga. Yang menghangatkan dengan cerah siangnya saat saya memanggul pipa AC atau sekantong bulu ayam warna-warni ketika sedang hunting.

Bali adalah
melting pot, tempat segala kultur bersenyawa dan melebur jadi satu. Mulai orang India bertato burung phoenix yang minum Jack Daniels dengan menghisap lewat hidung, bule Australia yang fasih berbahasa Jawa, bli-bli kucel yang pulang surfing menggandeng ABG Jepang mabuk mushroom, semuanya serasa begitu biasa. Begitu menyatu. Dan indah sekali rasanya bisa menjadi salah satu unsur di dalam adonan yang campur aduk itu.

Bali adalah keluarga,
yang selalu akan menerima seseorang dengan hangat, apa adanya, sebagaimana pun buruknya orang itu. Saya sungguh beruntung, di Bali saya dipertemukan dengan orang-orang yang hebat. Orang-orang sederhana yang tulus. Yang memperlakukan saya seperti saudara mereka sendiri. Saya telah jatuh cinta. Dan saya harus melepas pujaan saya itu.

++

28 Juni 2011


Saya bertolak pulang ke Jawa. Satu koper, satu traveling bag, satu ransel, dan satu pertanyaan: Kapan saya akan ke Bali lagi? bukan sebagai turis, tapi sebagai orang yang pulang ke rumahnya sendiri. Saya akan sangat merindukan pulau itu. Ada kepercayaan lama orang Bali, kira-kira bunyinya seperti ini:
"Siapa saja yang sudah pernah merasakan hidup di Bali, maka suatu saat, entah kapan, pasti akan kembali pulang ke sana."


Saya sedang menantikan saat saya akan kembali pulang. :)



*) dalam bahasa Bali: kapan pulang?