Tuesday, July 12, 2011

Bendan Mulih? *)

Danau Batur, Bali

25 November 2010

Saya tidak pernah menyangka. Pesawat Mandala Airlines yang terbang dari Surabaya menuju Bali pada 11:35 WIB itu akan membawa saya ke sebuah perjalanan tujuh bulan yang tak ternilai harganya.

Hari itu, belum genap seminggu saya diwisuda. Saya datang setelah packing asal-asalan. Meninggalkan rumah demi memenuhi panggilan interview di salah satu taman hiburan di wilayah timur Bali untuk posisi yang, menurut semua orang, "bukan saya banget" di divisi pengadaan. Jauh dari orangtua, teman-teman, dan segala hingar bingar Surabaya. Saya sudah punya back-up plan. Kalau tidak diterima, saya akan menumpang di kost teman di Kuta untuk cari kerja. Apa saja. Asal tidak nganggur.

++

Saya diterima! Mulai saat itu saya tinggal di mess, di dalam lokasi konservasi satwa (tepatnya di belakang kandang buaya dan babirusa) di pinggir kota Gianyar. Ya, Ubud yang terkenal karena film Eat Pray Love itu memang masih di kota Gianyar. Ya, desa pengrajin perak Sukawati juga masih termasuk wilayah Gianyar. Tapi jangan bayangkan saya berada dalam zona-zona turis yang itu. Saya tinggal di bagian Bali yang didominasi oleh hutan dan sawah. Sangat kontras dengan Surabaya.

jalan dari mess menuju kantor

Dari mess, perlu waktu 15 menit naik motor untuk belanja ke Indomart.

satu kilometer untuk ke warung makan terdekat.
satu jam untuk ke Mall terdekat.

satu jam untuk ke Kuta.

Mau kemana-mana jauh!


++

Hari-hari awal di kantor, saya bingung. Di lingkungan baru, saya bukan tipe orang yang gampang memulai pembicaraan. Butuh waktu lama untuk bisa tune in. Saya lebih memilih diam dan menyimak. Jika ada yang bertanya, baru saya bisa 'bunyi'. Saya banyak menghabiskan malam-malam awal dengan menemui beberapa teman lama yang sedang berlibur ke Bali. Saya sempat khawatir tidak bakalan bisa kerasan hidup di sana.
Betapa kelirunya saya.

++

Januari 2011
Tak pernah saya merasa begitu nyaman di tempat lain melebihi rumah saya sendiri. Bali, bagi saya, bukan destinasi wisata eksotis dengan berbagai sarana hedonisme serba-lengkap dimana semua orang berlomba memoles diri supaya terlihat lebih 'mahal' dibanding yang lain.


Hanya perlu waktu 5 menit untuk bisa makan plecing kangkung, sate lilit dan bakso ikan di warteg murah beralas pasir yang menghadap ke pantai. Melihat nelayan berangkat melaut. Di hari tertentu saya bisa makan sambil nonton orang main taruhan dadu.

Plecing kangkung, bakso ikan, sate lilit

Seminggu sekali saya pergi
hunting keliling Denpasar. Itu istilah kantor untuk memperhalus kata 'belanja'. Saya sangat senang jika diajak hunting bersama bli Lolak dan ajik Sumar, karena: 1. Jalan jalan ke kota. (Hore!) 2. Sepanjang perjalanan saya belajar beberapa kosakata dasar bahasa Bali. Mulai yang normal sampai yang jorok. Dalam beberapa bulan, saya sudah bisa bicara bahasa Bali (versi terbata-bata).

Hunting ke Makro

Di hari libur, saya bisa menghabiskan berjam-jam di sepetak secondhand bookshop milik bli Zainal di Poppies untuk baca buku bekas dari berbagai negara. Kadang beli, kadang cuma main. Kadang sambil mengobrol dengan sang pemilik yang sering mengeluh betapa dia ingin bisa merekomendasikan buku yang tepat bagi pembelinya. Namun bli Zainal tak bisa baca buku Bahasa Inggris. Hanya sekedar 'bahasa tawar-menawar', kalau mengutip istilahnya.

Toko buku bli Zainal

Ikut arak-arakan Ogoh-Ogoh di malam Nyepi sambil membawa obor di desa Temesi. Harus menyumpal telinga dengan kapas karena penduduk bersahutan meledakkan meriam bambu mereka sebagai perayaan menyambut hari suci. Diakhiri dengan makan nasi sela jukut jepang dan tum sambil jongkok di dapur rumah teman saya.

Arak-arakan Ogoh-Ogoh malam Nyepi di Temesi

Atau menyusuri Pecatu naik motor, menyerap keindahan padang rumput, tebing serta pantainya sebisa mungkin dengan semua panca indera. Camping dengan teman-teman di pantai Pondok Pemuda, tak ada orang lain selain kami. Tidur beralas matras di dermaga terlantar ditemani debur ombak. Bangun tidur melihat cakrawala tanpa batas, lalu kehujanan sepanjang perjalanan pulang tanpa jas hujan.

Memang tidak mewah. Tapi Ini rumah saya.

++

Pondok Pemuda

27 Mei 2011
Saya mengajukan surat pengunduran diri. Kenapa? karena saya ingin melompat lebih tinggi lagi. Saya harus melompat lebih tinggi. Dengan melompat lebih tinggi, lebih banyak yang bisa saya lihat. Apakah saya siap untuk mengundurkan diri? Ya, dari kantor saya. tapi tidak, sama sekali tidak siap, untuk meninggalkan Bali.

Bali adalah rumah. Yang memeluk dengan pepohonan raksasanya di sela-sela day off saya. Yang menghibur dengan desir ombaknya ketika saya sedang sedih karena jauh dari keluarga. Yang menghangatkan dengan cerah siangnya saat saya memanggul pipa AC atau sekantong bulu ayam warna-warni ketika sedang hunting.

Bali adalah
melting pot, tempat segala kultur bersenyawa dan melebur jadi satu. Mulai orang India bertato burung phoenix yang minum Jack Daniels dengan menghisap lewat hidung, bule Australia yang fasih berbahasa Jawa, bli-bli kucel yang pulang surfing menggandeng ABG Jepang mabuk mushroom, semuanya serasa begitu biasa. Begitu menyatu. Dan indah sekali rasanya bisa menjadi salah satu unsur di dalam adonan yang campur aduk itu.

Bali adalah keluarga,
yang selalu akan menerima seseorang dengan hangat, apa adanya, sebagaimana pun buruknya orang itu. Saya sungguh beruntung, di Bali saya dipertemukan dengan orang-orang yang hebat. Orang-orang sederhana yang tulus. Yang memperlakukan saya seperti saudara mereka sendiri. Saya telah jatuh cinta. Dan saya harus melepas pujaan saya itu.

++

28 Juni 2011


Saya bertolak pulang ke Jawa. Satu koper, satu traveling bag, satu ransel, dan satu pertanyaan: Kapan saya akan ke Bali lagi? bukan sebagai turis, tapi sebagai orang yang pulang ke rumahnya sendiri. Saya akan sangat merindukan pulau itu. Ada kepercayaan lama orang Bali, kira-kira bunyinya seperti ini:
"Siapa saja yang sudah pernah merasakan hidup di Bali, maka suatu saat, entah kapan, pasti akan kembali pulang ke sana."


Saya sedang menantikan saat saya akan kembali pulang. :)



*) dalam bahasa Bali: kapan pulang?

No comments: