Sunday, September 4, 2011

Catatan Kecil Satu September

Saya hidup hanya sekali.

Menurut agama saya, reinkarnasi itu tidak ada. Setelah tuntas menjalani satu kali kehidupan, jiwa manusia akan melanjutkan ke alam yang berikutnya. Alam yang abadi. Tanpa awal. Tanpa akhir. Di luar akal manusia. Saya ingin sekali mendebat Tuhan. Ingin sekali memohon supaya Dia membuat reinkarnasi menjadi ada. Tapi saya percaya Tuhan punya surprise yang lebih baik untuk saya dengan skenario-nya.

Tuhan baik sekali pada saya. Memberi saya kehidupan yang luarbiasa. Memberi saya semesta yang sangat besar. Memberi saya teman dan keluarga yang juga hebat-hebat.

Saya tidak tahu kapan Tuhan akan mengambil semua itu dari saya. Ataupun sebaliknya, mencabut saya dari semua itu. Mungkin besok pagi. Mungkin ketika saya sudah tak dapat lagi melakukan apa-apa. Saya tidak tahu.

Waktu adalah salah satu pemeran di dalam orkestra besar semesta Tuhan. Waktu bisa menjadi sahabat, kadang dia juga menjadi musuh. Waktu bagaikan personal trainer cerewet di gym yang membawa stop watch, memberi aba-aba kapan kita harus lari, berhenti. Istirahat. Tidur. Lari lagi. Jatuh. Bangun. Lari. Terbang. Tambah lagi kecepatannya. Jalan. Pelan-pelan. Jatuh lagi. Terus seperti itu, sampai waktu membunyikan peluit panjang ketika waktu kita sudah habis. Ketika sudah saatnya memasuki alam yang tanpa awal dan akhir. Saya percaya, semakin mendekati saat itu, semakin banyak hal yang sudah kita capai. Semakin ‘tahan banting’. Seperti besi panas yang ditempa terus-menerus hingga menjadi pedang. Cuma satu pelatih hebat bernama Waktu yang bisa menjadikan kita seperti itu.

Yang saya tahu, ketika memikirkan itu semua, saya tiba-tiba menjadi rakus. Rakus ingin merasakan semuanya. Rakus ingin menjelajah, mengalami, merasa. Karena menurut saya itulah inti dari hidup. Untuk apa diberi hidup, kalau tak pernah merasa? Untuk apa diberi semesta, kalau tak pernah menjelajah?

Merasa bukan semata pahit, manis, asam, asin. Menjelajah bukan semata kumpulan stempel di passport. Bukan berbentuk fisik, tapi ada dan nyata. Bukan kuantitas, namun kualitas. Merasa, bisa berarti terpaan air hujan di kulit ketika kamu sedang berlari mencari tempat berteduh bersama orang yang kamu sayangi. Menjelajah, bisa hanya dari tempat yang dekat, dimana kamu bisa berbaring tengadah melihat bintang semalaman suntuk hingga tertidur. Merasa dan menjelajah adalah beberapa dari banyak cara manusia menikmati wahana roller coaster hidup.


Nanti ketika waktu saya sudah hampir habis, apa saja yang sudah pernah saya rasakan? Berapa persen dari semesta Tuhan yang sudah saya jelajahi? Berapa orang di belahan dunia sebelah sana yang saya kenal? Itu adalah beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan cambuk untuk terus lari mengejar waktu. Mungkin memang bukan menjadi yang terbaik. Tapi paling tidak kelak ketika menengok ke belakang, mengingat semua hal itu dapat membuat saya tersenyum. Mungkin tersenyum geli, tersenyum getir, atau malah bangga.

Nanti.

Suatu hari nanti.

:)

No comments: