Tuesday, September 20, 2011

Marius Terbang




Namanya Marius Bernardus Mabur.

Postur tubuhnya yang tinggi besar sering membuat orang tidak menyangka kalau umurnya baru 16 tahun.

Marius suka sekali basket. Ketika ditawari oleh gurunya untuk serius bermain basket untuk tim SMA, Marius menyambutnya dengan sukacita.

Marius tak pernah merasakan listrik di tempat tinggalnya. Namun semangat Marius untuk belajar basket tak pernah sekalipun surut. Puluhan kilometer ditempuhnya dari pedalaman gunung untuk bersekolah. Terkadang tanpa alas kaki karena sepatunya jebol. Berkali-kali Marius harus menjahit sepatunya, karena hampir tidak mungkin rasanya menemukan sepatu basket ukuran 47 di Papua. Kalaupun ada harganya hanya membuat Marius meringis miris saking mahalnya.

Hari itu coach memberi kabar, Marius terpilih untuk berangkat ke Surabaya mengikuti camp basket untuk pelajar SMA selama sepuluh hari di Surabaya. Nantinya dari dua ratus peserta akan dipilih dua belas orang terbaik yang akan dikirim ke Seattle, Amerika Serikat. Marius senang bukan kepalang. Ke Surabaya! Ke Jawa! Bisa cari sepatu baru! begitu pikirnya.

Bersama enam wakil Papua yang lain, Marius mengikuti camp dengan tekun. Tidak seperti yang lainnya, Marius lebih banyak diam. Ketika semua campers dari Jawa makan bersama, Marius lebih memilih makan sendiri di pojok. Ketika anak-anak mengajaknya bercanda, Marius tersenyum malu-malu. Ketika yang lain menirukan logatnya yang tidak biasa, Marius juga tersenyum. Ketika beberapa yang cukup berani menyorakinya "Oi! Papua!", Marius masih saja tersenyum. Beberapa bahkan meledek namanya. Mabur dalam bahasa jawa artinya terbang. Marius Bernardus terbang. Semua tertawa terpingkal-pingkal. Marius tetap tersenyum lugu bersama mereka. Memamerkan deretan gigi putih yang kontras dengan warna kulitnya yang legam.

Masing-masing campers mendapatkan sepasang sepatu basket baru. Marius harus menunggu lama karena ukuran 47 cukup jarang dijual. Beberapa kali terlalu sempit. Senyum. Kurang satu nomor. Senyum. Kurang dua nomor. Kecewa, tapi tetap senyum. Terlalu longgar, masih juga Marius tersenyum sabar.

Di hari kedelapan, saya kebagian tugas membagikan sepatu untuk campers yang belum mendapat sepatu. Semua berebut. Semua ingin dapat model terbaru. Tidak mau model lama. Marius sabar berbaris menunggu giliran. Akhirnya, Ia datang dengan wajah penuh harap. Saya bukakan kotak sepatunya. Hati saya mencelos tak enak. Model lama keluaran tahun lalu. Model baru tidak ada yang ukuran 47. Marius mencoba, dan tiga detik kemudian wajah itu berseri cerah, "Kakak! Ini pas sekali, kakak! Saya suka sekali ini Kakak! Terima kasih banyak!", lalu Ia menghambur dengan wajah senang kembali ke lapangan. Saya mengawasinya dari belakang. Mata saya panas. Pandangan saya buram.

Farewell Dinner
.
Hari terakhir. Hari pengumuman duabelas besar campers yang berangkat ke Amerika Serikat.
Semua anak sudah memakai sepatu barunya. Marius makan bersama pelatih dan rombongan dari Papua yang lain. Marius tidak tersenyum. Wajahnya tegang. Bagaimana tidak, hanya dia satu-satunya perwakilan Papua yang lolos hingga ke tahap seleksi terakhir ini. Yang lain sudah gugur di 100 besar dan 50 besar. Berkali-kali Marius membetulkan letak kalung salib yang melingkar di lehernya. Berharap sebuah keajaiban kecil terjadi.

Komisioner liga basket mulai memanggil nama.
Satu per satu.

Medan.

Jawa Barat.

Jawa Timur.

DKI Jakarta.

Jawa Timur lagi.

Deretan nama itu mulai menipis. Nama-nama raksasa yang nantinya menjadi kebanggaan sekolah. Kebanggaan daerah asal. Satu per satu naik ke panggung. Ada yang loncat kegirangan. Ada yang berpelukan. Marius tersenyum gugup. Ikut bertepuk tangan setiap nama berikutnya dipanggil. Sudah nama kesebelas. Bukan namanya. Marius mulai melepas harapan.

Kemudian suara itu memanggil: "Marius Bernardus Mabur, Papua!"

Seisi atrium itu meledak gegap gempita. Semua orang berhamburan memelukinya. Mengguncang-guncang bahunya. Coach tersenyum bangga. Haru. Marius bingung. Perlu beberapa detik bagi Marius untuk menyadari komisioner benar-benar menyebut namanya barusan.

AMERIKA SERIKAT.

Marius menutup mukanya. Air matanya leleh tak bisa ditahan, seperti keju dibakar. Perlahan, Ia berjalan menuju panggung. Semua orang menepuk pundaknya. Bersorak. Kilasan lampu kamera wartawan berkelap-kelip menimpa wajahnya. Marius menjadi bintang malam itu.

Namanya Marius Bernardus Mabur.

Ejekan teman-temannya menjadi kenyataan.
Marius benar-benar telah terbang.


1 comment:

Unknown said...

I miss DBL a LOTTT!!!

:D

This is very lovely