Bittersweet.
Separuh tahun pertama, harus diakui, cukup rough buat saya. Tuhan memilihkan pelajaran yang tidak biasa kali itu. Butuh waktu bagi saya untuk bisa mencerna dan memahami apa yang hendak diajarkannya.
Sekali lagi saya belajar bahwa manusia tidak pernah ada yang hitam dan putih. Manusia adalah abu-abu yang sempurna lebur jadi satu dari ribuan elemen warna yang menjadikan dirinya dia. Bahwa tak sedikitpun saya punya kuasa untuk menjadikan orang lain itu berlaku sesuai kehendak saya, dan tak seorangpun di semesta selain Tuhan punya wewenang absolut untuk menjudge orang lain tentang benar dan salah. Dulu sekali, seorang teman baik pernah mengajarkan bab abu-abu ini pada saya. Ternyata waktu itu saya masih terlalu hijau untuk memahami maksudnya. Ibarat bawang, yang waktu itu saya kupas ternyata barulah kulitnya.
Lalu apakah di tahun 2012 kemarin saya sudah mengupas bab ini hingga bagian intinya? Belum tentu. Dosen saya pernah mengajarkan, Communication is an ongoing process of learning and understanding. Proses pemaknaan terjadi terus menerus, sehingga apa yang kita pahami di hari ini tidak akan berhenti sampai di sini saja. Terus, sampai mati. Semoga.
Lalu apakah di tahun 2012 kemarin saya sudah mengupas bab ini hingga bagian intinya? Belum tentu. Dosen saya pernah mengajarkan, Communication is an ongoing process of learning and understanding. Proses pemaknaan terjadi terus menerus, sehingga apa yang kita pahami di hari ini tidak akan berhenti sampai di sini saja. Terus, sampai mati. Semoga.
Di tahun 2012 saya juga belajar untuk menaklukkan musuh terbesar manusia di bumi: diri mereka sendiri. Saya termasuk orang yang percaya bahwa di dalam diri setiap manusia ada seorang teman tanpa wujud yang sejati. Barangkali itu yang sering disebut hati nurani. Saya mengandaikan diskusi-diskusi dalam diri ini seperti percakapan antara Gollum dan Smeagol dalam film Lord of The Rings. Bukan pekerjaan mudah bagi seseorang untuk bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Jangankan untuk orang lain, menjinakkan ego untuk kebaikan dirinya sendiri terkadang manusia tak mau. Seringkali, saya mengajak diri saya sendiri untuk berdiskusi tentang keputusan-keputusan besar yang mendesak, tentang mimpi-mimpi yang jauh, tentang pencapaian yang sudah kami menangkan, bertarung dengan dendam yang tak mau pergi, dan masih banyak lagi. Apakah hanya saya yang mengalami hal ini?
Separuh tahun terakhir, perlahan saya menemukan kembali nyali untuk berdiri. Saya temukan lagi passion yang sudah lama terkubur entah kemana: Berdagang dan Bahasa.
Berdagang mengajarkan diri saya bahwa parameter kesuksesan tidak hanya melulu dari gaji dan jabatan. Bahwa kesuksesan tidak sama dengan kekayaan. Dulu, bekerja ibarat candu bagi saya. Lupa mandi. Lupa makan. Lupa tidur. Lupa kalau saya juga punya keluarga. Setelah berdagang, saya belajar bahwa sukses itu harus. Hidup cukup itu harus diusahakan. Namun happiness harus diletakkan di atas semua itu. Jangan pernah dinomorduakan.
Saya selalu punya minat tinggi dalam belajar bahasa. Baik bahasa asing maupun bahasa lokal. Menurut saya, bahasa adalah penemuan manusia yang paling jenius. Bahasa membuktikan bahwa manusia tidak sanggup hidup sendirian. Manusia butuh berkomunikasi dengan yang lain. Bahasa juga memungkinkan manusia mengeksplor lebih dalam suatu kultur di belahan bumi yang lain. Semakin banyak bahasa yang saya pelajari, semakin saya merasa kecil, dan semakin saya merasa Tuhan itu kaya.
Enam bulan terakhir, saya memutuskan menggunakan hasil berdagang saya untuk serius mempelajari Bahasa Perancis, salah satu bahasa yang (katanya) paling sulit di dunia. Waktu itu motivasi saya hanya satu: sejak duduk di bangku SMP saya ingin bisa berbicara Bahasa Perancis karena (katanya) orang Perancis tidak mau berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Besok-besok kalau ke Perancis biar bisa ngomong sama orang Perancisnya, begitu pikir saya. Di luar dugaan, yang saya dapat bukan hanya kemampuan berbahasa, namun saya belajar untuk kembali berani bermimpi, dan kembali berani untuk konsekuen mewujudkan semua mimpi saya. Belajar bahasa Perancis, menurut saya, adalah pencapaian tertinggi saya di tahun 2012.
Enam bulan terakhir, saya memutuskan menggunakan hasil berdagang saya untuk serius mempelajari Bahasa Perancis, salah satu bahasa yang (katanya) paling sulit di dunia. Waktu itu motivasi saya hanya satu: sejak duduk di bangku SMP saya ingin bisa berbicara Bahasa Perancis karena (katanya) orang Perancis tidak mau berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Besok-besok kalau ke Perancis biar bisa ngomong sama orang Perancisnya, begitu pikir saya. Di luar dugaan, yang saya dapat bukan hanya kemampuan berbahasa, namun saya belajar untuk kembali berani bermimpi, dan kembali berani untuk konsekuen mewujudkan semua mimpi saya. Belajar bahasa Perancis, menurut saya, adalah pencapaian tertinggi saya di tahun 2012.
Saya menutup 2012 dengan sebuah keputusan besar: Kembali ke Bali.
Mengapa Bali lagi? tanya seorang teman.
Seperti yang mungkin sudah anda baca di beberapa posting sebelum ini, Bali adalah melting pot, tempat puluhan kultur menyublim jadi satu dalam heterogenitas yang toleran dan guyub. Setelah semua yang saya alami di 2012, saya rasa Bali adalah landasan pacu yang ideal untuk startover dan mewujudkan kembali semua mimpi saya. Tidak ada excuse untuk menyerah kali ini. Apapun itu.
Mungkin apa yang dikatakan orang itu ada benarnya. Sekali seseorang memutuskan untuk hidup di Bali, suatu saat pasti akan kembali lagi ke Bali. Whatever it is, I simply fell in love with this island, maybe that's why.
Kemudian datanglah tahun 2013. Ternyata saya lolos dari ramalan suku Maya. Hahaha.
Selamat tahun baru, teman-teman. Semoga raport kita tahun ini lebih baik daripada tahun 2012 supaya bisa naik kelas. :)
Cafe Havana, Ubud, 05 Januari 2013.
--Gigih.
No comments:
Post a Comment