Saturday, September 10, 2011

Infinity



Iseng-iseng bongkar file lama, nemu tugas UTS mata kuliah Penulisan Naskah film, jaman masih kuliah sekitar tahun 2009. Perkiraan durasi kalau divisualisasikan : 15 menit.

Naskah saya biarkan sesuai aslinya ketika ditulis.

Enjoy!


INFINITY

MUSIK LATAR: Alunan Grand Piano

Background hitam, muncul tulisan “Gigih Rahmatika Presents”

Denting alat makan diselingi suara beberapa orang bercakap-cakap di restoran mewah.

Background hitam CREDIT TITLE

INT. IL RISOTTO DI RISTORANTE - MALAM

Di salah satu meja duduklah seorang laki-laki berbadan tinggi dan perempuan mungil yang akan kita kenal sebagai Danu dan Kayla.

KAYLA

Makasih ya buat makan malamnya. Saya suka suasananya. Enak buat ngobrol.

DANU

Sama-sama, Kayla. Saya juga seneng bisa mampirin kamu kesini. Maaf ya, warungnya masih berantakan.

KAYLA

Ha ha ha. Kamu bisa aja kalo merendah. Iya nih, “Warung”-mu ini kurang asik soalnya nggak jual nasi uduk.

DANU

(Tersenyum)

Nasi uduk lauk Lasagna? He he he.

KAYLA

Ha ha ha. By the way, itu tato kamu bagus juga, ya.

DANU

Oh, ini? (Menunjukkan tato di balik telinga kirinya)

KAYLA

Kenapa harus angka delapan?

DANU

Ini bukan angka delapan. Ini lambang infinite. Keabadian. Bentuknya kayak obat nyamuk ya? Ha ha ha ha.

KAYLA

(Tertawa kecil) ha ha ha. Ya ampun, tahu nggak sih, Danu? Beberapa kali ketemu kamu, Saya selalu ngerasa sudah kenal kamu lamaaaa sekali. Padahal baru juga bulan lalu kita dikenalin sama Irwin.

DANU

(Mendongak melihat mata Kayla)

.....Kamu ngerasa gitu?

KAYLA (C.U)

(Menyibakkan rambut, terlihat tanda lahir di pergelangan tangan)

Iya. Silly, ya?

DANU

(Terdiam sejenak melihat tanda lahir di tangan Kayla)Enggak. Bagi saya itu nggak silly sama sekali.

KAYLA

O ya? Kenapa gitu?

DANU

....Kamu percaya reinkarnasi?

CREDIT TITLE BERAKHIR DENGAN PENYEBUTAN NAMA SUTRADARA DAN MAIN TITLE.

FADE IN TO.

EXT. RUMAH SANTI

Nampak sebuah rumah kuno yang cukup besar, dengan teras berbentuk bundar dan mobil Mercedes Benz kuno diparkir di halaman. Insert text tahun 1970. BCU sosok punggung seorang pria mengetuk pintu rumah. Di balik telinganya terdapat tato berbentuk infinity.

CUT-TO

BCU angle kamera memperlihatkan pergelangan tangan seorang wanita yang memakai gelang dan memiliki tanda lahir. Tangan itu membuka pintu rumah dari dalam

SANTI

(Membuka pintu) Ya?

ARIF

Selamat siang, mbak Santi.

SANTI

Mas Arif dari tabloid ‘Berita Hangat’? yang tadi telepon saya?

ARIF

Betul sekali mbak. Bisa saya mewawancara mbak sekarang?

SANTI

Boleh. Silahkan masuk, Mas.

ARIF

Makasih, Mbak.

Arif masuk ke rumah Santi. Ketika melintas di depannya, Santi melihat sebuah tato berbentuk Infinity di belakang telinga kiri Arif. Santi sangat terkejut karena dia ingat betul pada kehidupannya yang sebelum ini. Ia tidak menyangka kekasih abadinya tiba-tiba muncul sebagai wartawan di kehidupannya kali ini.

ARIF

Mmmm.... Ada yang salah mbak?

SANTI

(Tersadar dari lamunan) Hah? Oh enggak, maaf saya melamun.

ARIF

Maaf ya mbak. Pasti mbak Santi nggak nyaman ya lihat tato saya? Banyak kok mbak yang seperti mbak Santi gitu.

SANTI

Oh, enggak mas. Nggak sama sekali. Malah saya suka sama tato itu. Artinya keabadian kan?

ARIF

Wow. Saya kagum. Mbak Santi tau banyak juga ya?

SANTI

Panggil saya Santi aja. Nggak usah pakai Mbak.

ARIF

Oke, Santi. Bisa saya mulai interviewnya sekarang?

SANTI

Boleh.

ARIF

Oke, Santi. (Mengeluarkan Tape recorder dan notes) Jadi album yang baru anda rilis ini sebetulnya bercerita tentang apa sih?

SANTI

Album saya yang baru ini banyak bercerita tentang kehidupan dan pencarian seorang perempuan atas cintanya.

ARIF

Pencarian yang bagaimana maksud anda?

SANTI

Kamu.

ARIF

Maaf?

SANTI

Jangan panggil saya dengan sebutan ‘anda’ dong. Terlalu formal.

ARIF

Oh. Oke. Mmm.... (Salah tingkah) Pencarian yang bagaimana maksud..kamu?

SANTI

(Menyulut rokok, menghisap, dan mengepulkan asap perlahan) Saya percaya bahwa setiap orang punya yang namanya kekasih abadi. Bahwa setiap pasangan selalu dilahirkan kembali ke dunia dan akhirnya menemukan satu sama lain.

ARIF

Seperti kisah Adam dan Hawa? (sambil menulis di notes)

SANTI

Ya. Seperti cerita mereka.

ARIF

Jadi kamu percaya pada kelahiran kembali?

SANTI

(menaikkan tangan yang memegang rokok sehingga tanda lahirnya terlihat) ya. Saya percaya. Kamu percaya?

CUT TO: sekelebat potongan memori sepasang wajah lain yang memiliki tanda lahir sama.

CUT BACK: Kembali ke setting ruang tamu Santi.

ARIF

(Tersadar) Hah?! Saya...Saya nggak tau.

SANTI

Maaf. Saya terlalu serius ya? Sebentar, saya ambilkan minuman. (Berdiri mengambil minuman di dapur)

ARIF

Hahah. Nggak juga. Huff...(menghela nafas)

SANTI

(kembali duduk)Ini sirupnya. Diminum dulu.

ARIF

Makasih. (Minum) Saya tertarik sekali dengan pernyataan kamu barusan. Lalu, kalau yang kamu bilang itu bener, siapa kamu di kehidupanmu sebelum ini?

SANTI

Kadang kita sama sekali nggak bisa ingat siapa diri kita di kehidupan yang lalu. Tapi kadang itu bisa lebih jelas dari ingatan kita di masa ini.

ARIF

Jadi kamu nggak inget?

SANTI

saya inget. Di kehidupan sebelum ini, saya anak keluarga priyayi di Solo. Tahun 1930an.

ARIF
........(Diam)

SANTI

Menurutmu saya bohong nggak?

ARIF

Saya nggak tau harus percaya atau enggak. Lalu,siapa ‘kekasih’ yang kamu cari itu?

SANTI

Kalau sekarang, saya nggak tau. Saya belum menemukan dia.

ARIF

Lalu gimana cara kalian menemukan satu sama lain?

SANTI

Nggak tau kenapa, saat bereinkarnasi, kami selalu membawa tanda di tubuh kami (memperlihatkan pergelangan tangan) Pada akhirnya satu dari kami atau dua-duanya, cepat atau lambat nemuin satu sama lain.

ARIF

Itu tanda kamu? (mengedikkan kepala)

SANTI

Yap.

ARIF

Dan, tanda yang dibawa..mmm..’pacar’ kamu ini?

SANTI

(Tersenyum) biasanya tato berbentuk infinity di belakang telinga kiri.

ARIF

.....Wow. Saya juga tidak ingat bagaimana saya bisa punya tato ini(meraba tatonya)

SANTI

Ya. Itulah kenapa. Wow.

ARIF

Jadi...Mmmm (salah tingkah) apa itu..Mm...berarti..saya..?

SANTI

Entahlah. Saya juga tidak mau keburu senang dulu. Tapi, kamu percaya apa yang saya katakan barusan?

ARIF

Tentang reinkarnasi dan sebagainya itu tadi?

SANTI

(mengangguk)

ARIF

Saya...mmmm....tidak tahu. Kita baru pertama kali bertemu. Saya mengenal kamu lewat televisi dan majalah.

SANTI

(terkejut) wah! Kali ini kamu yang tidak mengingat saya! Pasti barusan saya bikin kamu ketakutan!

ARIF

Mmmm...tidak juga...(mengambil tape recorder, mematikannya) saya..sering mengalami mimpi-mimpi aneh.

SANTI

Itu memori!

ARIF

Saya nggak tahu juga.

SANTI

(Memegang tangan Arif) Kamu nggak perlu langsung percaya. Kamu cuman perlu mencari memorimu itu dulu. (Tersenyum)

ARIF

Ya...Mungkin. (ikut tersenyum)

CUT-TO: ARIF dan SANTI bersepeda, berboncengan di alun-alun kota. Santi mengenggam tangkai balon gas, tangan kanannya ditautkan di pinggang Arif.

MUSIK LATAR : lagu tahun 70an dengan irama ceria

CUT-TO: Santi menyuap es krim kepada Arif, lalu menyurukkan es krim ke mulut Arif hingga mulut Arif kotor terkena es krim. Mereka tertawa-tawa.

CUT-TO : Santi tidur bersandar di dada Arif, bercerita tentang apa yang diingatnya di kehidupan lampau.

EXT. RUMAH SANTI

Arif mengetuk rumah santi dengan antusias. Hari ini Santi berulang tahun.Ia membawa kue ulangtahun dan juga balon kesukaan Santi. Ternyata yang membukakan pintu seorang bapak-bapak.

EFFENDY

Ya? Bisa saya bantu?

ARIF

Oh. (agak kaget) Santi-nya ada, Pak?

EFFENDY

(Menilai dari atas sampai bawah) Anda siapa ya?

ARIF

Saya....saya Arif, temannya.

EFFENDY

Ada keperluan apa, kalau boleh tau?

ARIF

Saya cuman mau...Mmm...ngasih ini buat Santi, Pak.

EFFENDY

(Menerima) baik, nanti saya sampaikan.

ARIF

(Kecewa) Oh..baik. terima kasih, Pak.

Pintu ditutup di depan Arif.

EXT. KAMAR HOTEL

Asap rokok mengepul di kamar hotel. Arif dan Santi duduk berpelukan di tempat tidur.

ARIF

Sayang.

SANTI

Hmmmm?

ARIF

Papa kamu nggak suka sama saya, ya?

SANTI

Hmm. Papa cuman melakukan satu hal yang akan dilakukan oleh semua ayah kepada pacar anak gadisnya. Apalagi kamu wartawan.

ARIF

Apa yang salah dengan menjadi wartawan?

SANTI

Yang salah adalah kamu wartawan miskin di mata Papa.

ARIF

Tapi kan saya cuma berusaha untuk..

SANTI

Husssh...sudahlah, yang Papa nggak tau, kamu sama saya sudah pernah mengenal jauh sebelum Papa lahir. He he...

ARIF

Tidak. Saya tidak tahu apa-apa tentang itu. (defensif)

SANTI

(membalikkan badan) Mimpi-mimpimu yang cuman sekelebat itu adalah bukti yang sudah lebih dari cukup bagi aku. Bahwa kamu memang orang yang aku cari.

ARIF

Tapi...Saya masih tetap tidak mengingat apa-apa. Saya hanya tau semua itu dari cerita kamu. Saya ingin tahu semuanya.

SANTI

(Tersenyum) persis seperti yang aku lakukan ketika kamu terus bercerita tentang masa lalu dan aku tak ingat apapun

ARIF
Nah. Nggak enak sama sekali kan?

SANTI

Iya. Aku tahu.

ARIF

Itu yang aku rasakan sekarang. Karena aku hidup di masa ini. Aku tak tahu masa laluku dan masa depanku. Aku sangat khawatir dengan Papamu yang tak suka dengan aku, aku khawatir dengan pekerjaanku..

SANTI

(Tersenyum) dengerin aku Arif, Moses, Warman, siapapun namamu selama hidup di bumi...yang kamu khawatirkan sekarang itu, semuanya hanyalah atribut duniawi. Ketika kamu lahir kembali, kekhawatiran itu akan menjadi percuma, karena kau tak akan membawanya ke kehidupan selanjutnya.

ARIF

(Menghela napas) kadang-kadang aku berpikir kamu itu cuman ilusi yang dikirim Tuhan buat melemahkan aku.

SANTI

Ha ha ha ha ha.. aku ini nyata. Sama kayak kamu.

ARIF

Semoga saja. Semoga kali ini, kita punya waktu cukup lama untuk bersama

SANTI

(Tersenyum) Semoga.

FADE-OUT

EXT. KAMAR HOTEL – PAGI HARI

Pintu kamar hotel digedor. Arif dan Santi terbangun. Setelah merapikan diri, Arif berjalan ke pintu kamar dan membukanya. Alangkah kagetnya Arif ketika mendapati Pak Effendy berada di balik pintu. Ia tak sendirian. Di belakangnya banyak kilasan lampu kamera wartawan yang berjubel mencari berita panas. Arif tak sempat menyembunyikan wajahnya lagi

EFFENDY

Kamu. Wartawan. Bajingan! (Memukul muka Arif)

ARIF

Pak, Saya bisa jelaskan ini semua!

EFFENDY

Pergi kamu dari sini! Jauh jauh dari anak saya! Bedebah!

ARIF

Tapi Pak..!

Arif ditarik menjauh oleh aparat. Santi terperangah kaget. Kerumunan wartawan terpecah, ada yang terus merangsek ke kamar, ada yang mengikuti Arif. Arif dan Santi tak sempat berkata apa apa lagi.

CUT-TO. RUMAH SANTI

Telepon berdering. Santi berlari hendak mengangkat telepon, namun dihadang oleh ayahnya.

CUT-TO KANTOR ARIF

Telepon diangkat. Begitu yang terdengar adalah suara Effendy, Arif sudah tahu tidak mungkin dapat berbicara dengan Santi.

CUT-TO. RUANG PIMPINAN REDAKSI

Selembar kertas putih dibubuhi beberapa tanda tangan diletakkan rapi di meja. Atasan Arif duduk di kursinya dengan posisi santai. Arif duduk di seberang mejanya dengan kepala tertunduk.

PEMIMPIN REDAKSI

Ini tidak mudah bagi saya, Arif. Selama ini prestasimu bagus sekali di antara anak-anak yang lain

ARIF

....Jika memang Bapak sudah yakin, saya hanya meyakini bahwa ini adalah konsekuensi yang harus saya terima

PEMIMPIN REDAKSI

(Menghela Napas Panjang) Saya sendiri tak percaya dengan yang dibicarakan majalah-majalah itu. Kamu tak pernah seperti itu sebelumnya

ARIF

Ya, Pak. Anda benar. Saya memang belum pernah seperti itu sebelum ini. Saya tak pernah mencintai orang lain sampai seperti itu.

PEMIMPIN REDAKSI

Saya sangat menyesal harus memberhentikan kamu, Arif. Ini semua murni karena tekanan dari pihak atasan. Tabloid kita oplah-nya menurun drastis minggu ini karena skandalmu. Saya tak bisa tutup mata tentang hal itu..

ARIF

Saya mengerti. Terima kasih atas bantuannya selama ini, Pak. (Bangkit dari kursi)

PEMIMPIN REDAKSI

Arif. Satu pertanyaan lagi. Apa yang membuat kamu begitu sayang dengan penyanyi itu?

ARIF

(berhenti, berbalik menghadap pemimpin redaksi) ....Bapak percaya tentang kehidupan abadi? (Menutup pintu)

EXT. KANTOR POS – MALAM HARI

Arif meminjam telepon di kantor pos. Hari sudah hampir tengah malam. Di luar hujan deras. Ia memutar nomor telepon yang sudah begitu lekat di ingatannya. Menunggu sebentar. Kemudian telepon diangkat.

SANTI

(Berbisik) Halo?

ARIF

Halo. Santi!

SANTI

(Memekik pelan) Arif!

ARIF

Ssssh! Jangan keras-keras. Maaf aku menelepon semalam ini. Papamu...kamu...bagaimana kabarmu sejak saat itu?

SANTI

Aku baik-baik saja. Papa semakin seperti polisi saja. Siang malam ia tak mau melepaskan pengawasannya dariku. Dia sangat takut kamu akan membawa aku pergi. Dan memang sepertinya kamu menelepon untuk membawaku pergi.

ARIF

Bagaimana kamu tau?

SANTI

Aku mengenalmu ratusan kali sebelum ini, sayang.

ARIF

Ya ampun. Aku selalu lupa tentang hal itu. Mmmm..Hei, jadi kamu mau kalau kuajak pergi?

SANTI

Ya. Tentu saja! Kemanapun, aku ikut!

ARIF

Baik. Jadi aku sekarang berada di kantor pos dekat rumahmu.

SANTI

Oya? Tidak terlalu jauh dari sini.

ARIF

Masalahnya, aku kebetulan nggak bawa payung. Jadi, kira-kira kalau sementara hujan-hujanan kamu nggak papa?

SANTI

Nggak papa.

ARIF

Oke. Setelah ini aku jemput kamu di jalan raya dekat rumahmu. Tempat biasanya kita duduk-duduk lihat mobil lewat.

SANTI

Ya. Aku siap-siap dulu ya sekarang

ARIF

Oke. Jangan sampai Papamu bangun. Sampai ketemu sepuluh menit lagi

SANTI

Kamu juga (menutup telepon)

Arif langsung berlari ke luar. Menerjang hujan deras mengarah ke rumah Santi. Ia sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan Santi setelah sekian lama tak pernah bisa bertemu.

EXT. RUMAH SANTI

Perlahan lahan Santi menutup pintu rumahnya. Ia sempat mengalami kesulitan kecil menemukan kunci. Ternyata ayahnya yang menyembunyikannya. Harapan akan segera bertemu dengan pujaan hatinya menyalakan kembali semangatnya. Ia meninggalkan sepucuk surat di tempat tidurnya yang ditujukan untuk ayahnya. Ia mengambil payung dan membukanya, kemudian berjalan pelan menyusuri trotoar sepanjang jalan rumahnya. Malam itu dingin sekali.

EXT. JALAN RAYA

Dingin sekali, dan ramai pula jalan raya ini, pikir Arif, seraya menyusuri trotoar di deretan kantor pos.

ARIF (V.O)

Aku mau lebih banyak belajar untuk memiliki hidup yang stabil. Aku mau belajar menjadi pasangan yang baik bagi Santi, bukan membawanya lari seperti ini. Aku mau menikahinya secara baik-baik, dan membangun sebuah keluarga bersamanya.

CUT-TO

SANTI (V.O)

Aku harus lebih toleran pada Arif. Ia belum ingat apa-apa dari kehidupan sebelumnya. Aku harus sabar menghadapi pertanyaan-pertanyaannya yang kebingungan menyikapi kejadian belakangan ini. Wajar. Semua ini pasti terjadi terlalu cepat baginya.

CUT-TO.

Arif berbelok di tikungan jalan rumah Santi, dan melihatnya dari kejauhan. Arif tersenyum melihat kekasihnya itu dan mempercepat langkahnya.

CUT-TO.

Santi mendongak dan melihat sosok Arif yang berjalan cepat di seberang jalan kejauhan. Wajahnya langsung berubah cerah seketika, dan Ia semakin mempercepat langkahnya. Semakin dekat, semakin cepat pula langkahnya. Akhirnya ia berlari menuju Arif. Karena senang bertemu kekasihnya, Santi tidak memperhatikan sekitar. Ia langsung menyeberang menuju pujaannya itu.

SANTI

Arif !

Air muka Arif berubah. Arif berlari lebih cepat. Santi tak mengerti kenapa wajah Arif berubah menjadi cemas ketika mereka bertemu dan seharusnya bahagia.

ARIF

SANTI, MINGGIRRR!!!

Lampu mobil menerangi jalan raya. Santi terkejut namun terlambat bereaksi. Arif melompat ke jalan raya untuk menyelamatkannya, tapi terlambat. Mobil menabrak Arif dan santi. Setelah itu semuanya gelap.

FADE OUT

INT. IL RISOTTO DI RISTORANTE – MALAM HARI

Alunan grand piano masih terdengar. Para waiter sudah mulai merapikan meja. Sebentar lagi restoran akan segera tutup.

DANU

Jadi kira-kira begitu cerita mereka.

KAYLA

.......Wow. (melirik tanda lahir di pergelangan tangan)

DANU

Ya, saya tahu. Wow.

KAYLA

Shhh!

DANU

Maaf?

KAYLA

Aku. Jangan panggil ‘saya’.

DANU

(Tersenyum)

KAYLA

Jadi...menurut teorimu ini...kamu adalah reinkarnasi dari si...Wartawan itu, siapa namanya?

DANU

Arif.

KAYLA

Iya, Arif. Dan aku adalah.....

DANU

Santi. Dan siapapun kamu sebelumnya.

KAYLA

Hmmm...teorimu itu perlu pembuktian, Mister.

DANU

(Tertawa kecil) Yaa..memang, saya seperti seorang psycho ya, Tiba tiba muncul lalu bilang seperti itu.

KAYLA

Erm....not completely, sih. But yes. Bener-bener cara yang nggak bagus buat PDKT ke cewek.

DANU

Ha ha ha. Oke, saya kalah.

KAYLA

Tapi serius deh, aku ngerasa udah kenal lamaaa banget sama kamu. Dan aku juga sering mengalami kilasan-kilasan ingatan yang kayak bukan punyaku sendiri gitu. Isinya muka orang lain semua. Dan aku juga berperan jadi orang lain disitu.

DANU

(tersenyum) saya nggak memaksa kamu untuk langsung percaya. Mungkin butuh waktu. Yaaa...sambil jalan ajalah.

KAYLA

Ya. Saya...Mmm...saya mau kok ambil resiko kamu boongin. Karena, well, anggep aja kali ini saya yang amnesia. Hehehe.

DANU

Kali ini saya yang jagain kamu. Kali ini saya yang ceritain gimana masa lalu kita dulu. Do u think we’re crazy anyway?

KAYLA

Ha ha ha ha ha...yes we are!!

DANU

Great, then let’s do this!

Danu bangkit dari kursi, menggamit tangan Kayla, mengangguk kepada waiter di dekat pintu keluar, dan bersenda gurau dengan Kayla. Mereka semakin menjauh dari kamera, dan akhirnya hilang tak terlihat lagi.

2 comments:

IsmailP said...

This is good gih. Seriously. I love it. Aku suka tema reinkarnasi sama kekasih abadinya. Apiiiik.. Apiiiiik...

Gigih Rahmatika Cahyo said...

Thanks for reading and stopping by, Ran. :)